Jauhkan Orang Narsis dari Seksi Dokumentasi (Kisah Nyata)

Teman2 dan pembaca yang terhormat, dalam post ini gw akan men-share sebuah pengalaman yang masih segar, yaitu pengalaman semalam. Sekiranya kalau terjadi apa2, setidaknya tulisan gw ini bisa mengabadikan apa yang terjadi semalam, dan dunia bisa mengetahui apa yang gw rasakan dan gw pikirkan. Hehehe.

Oke sebelum gw tulis kejadian secara gamblang apa yang terjadi semalem, tentunya kita mulai dari basa-basi dulu lah. Masa orang Indonesia gada basa-basinya ya? Ga asik lah. Jadi begini teman-teman, di dunia yang penuh dengan kegiatan ber Twitter dan ber Facebook, sadar ga sadar pasti sadar, kita pasti menyadari bahwa betapa narsisnya sanak saudara atau teman-teman kita belakangan ini. Jujur aja, dari hasil studi ilmiah yang gw lakukan dengan mata, peringkat kenarsisan masyarakat Indonesia berada di urutan ke-2 setelah Korea. Percayalah, gw punya teman2 Korea yang narsisnya melebehi segala suku bangsa yang ada, walau khusus untuk teman-teman gw ini, karena mereka cantik dan lucu jadi lupakanlah :) Nah perbedaannya dengan orang Indonesia terletak pada sharing hasil kenarsisannya tersebut. Pada kasus orang Korea, walau foto yang mereka tangkap bercampur antara lingkungan sekitar dan foto diri, akan tetapi foto yang mereka upload kebanyakan hanya foto lingkungan sedang foto pribadi hanya mereka simpan pribadi. In the other hand, orang Indonesia mengupload, terutama foto diri mereka, kebanyakan dengan pose tersenyum berlebihan atau pose-pose imut lainnya. Banyaknya jumlah foto yang diupload juga menurut gw seakan tidak proporsional dengan lamanya aktifitas mereka. Gw sering mikir, apa sebenernya selama acara tersebut, mereka lebih banyak berfoto atau inti dari acara itu sendiri. Dan perlu disadari, ini bukan hanya terjadi di cewe, tapi juga beberapa teman cowo gw yang kalau sehari-harinya bertingkah jantan dan bossy, tapi pada kenyataannya cukup narsis juga. It’s so funny :)

Sekian dengan dasar teorinya, gw bakal berlanjut dengan pengalaman yang gw gadang-gadang dari tadi. Ceritanya semalam di Dorm gw, diadakanlah acara gabungan, yaitu ultah 1 teman Korea gw, Thomas dan acara dinner bersama orang Indonesia-India. Subjek dari cerita ini adalah salah satu sahabat gw, Desita dan untungnya dia sudah bersedia menjadi aktris di cerita gw, thanks Des. Nah kelakuan Desita sudah sejak dulu gw ketahui bahwa dia tergolong sebagai cewe yang narsis. Memang wajah yang cantik dan jasmani yang proporsional dan prima juga mendukung hobinya ini #Loh jadi promosi?? Gw sering ngobrol dengan Desita dan menurut pengakuan dia, di depan orang-orang baru dia termasuk orang yang susah beradaptasi dan canggung. Cumaa yang sering gw amatin, di berbagai kesempatan dia suka sekali berfoto sama teman2 internasional yang dia bisa dibilang belum terlalu akrab atau bahkan sebelumnya tidak kenal sama sekali. Makanya semalam gw kaget tiba-tiba dia bilang begini:

Desita: Gw mau jadi Seksi Dokumentasi! Gw mau, sini kasihin Kamera ke gw!

Gw: (dalam hati) Firasat gw ga enak nih. Seriusan?!……..

…………………………….. Dan teman2, hasilnya jadi begini

Loh katanya seksi dokumentasi

Seksi Dokumentasi mananya

Desita, Name that Guy!

With Thomas

Ini Ngapain coba???!

Begitulah kenyataannya, well you have to admit it, she ain’t that good Documentation section, am I right?! Oke to say it bluntly, not only Desita but almost all the Indonesian girls that stay here with me are all like that, kata gw cma Sania sama Indah yang penyakitnya belum seakut itu. Hehehe. Oke bukannya gw protes atau gimana, namanya juga “Siapa gw siapa elo?” ya? Bukan urusan gw juga sih. Cuma gw orangnya kalo ada yang lucu-lucu di mata gw, bawaannya kalo ga di share berasa sayang aja.

Di mata gw jujur aja ini fenomena sangatlah aneh. Di mata gw apa sih artinya foto? Daripada misal gw berhasil foto dengan cewe yang super hot 100% dan gw pamerin ke temen2 gw, gw lebih bangga kalau misal gw bilang ke temen gw, “Eh semalem gw ketemu cewe cakep banget loh. Dan ternyata dia bukan cuma cantik, tapi dia punya pemikiran yang luas / ternyata masa lalunya kelam loh.” Memang foto itu penting, cuma gw ko merasa kalau apa yang gw alamin dan gw dapet dari sebuah pengalaman lebih penting dari sekedar materialisasi kejadian itu sendiri ya? Jadi sering juga misal di party, gw lebih memilih cuek bebek dan kalau bukan orang lain yang ngajak foto bareng gw, gw ga akan meminta foto bareng. Never! Alhasil karena, I’m not that good looking of a person, koleksi foto gw juga sedikit deh :p No problem, I don’t care. *nangis dalam hati

Btw, mengenai kenarsisannya, Narasumbernya sendiri sudah rela memberi argumen dari tingkah lakunya. Silakan dibaca! See you in next post :)

Beginilah menurut empunya!

Kepler story : Introduction

May 21′st 2012.  1:14 am

I don’t know what I’m thinking right now. In 2 days I will have German test and also, (again) this thesis of mine hasn’t had good progress recently. But never mind. It’s around 1 week ago that I suddenly had the urge to write something about Kepler and finally now I will start to realize it with this post. For you people that have been friends with me either on Facebook or Twitter, you will find that every once in a while I keep posting about Kepler, and maybe you will be asking, “What is this crazy man talking about? Is it so special that he always wanted to tell everybody?” Well for me, Kepler isn’t like any wohnheim (dorm) I have ever lived in. Either in Indonesia or in my previous wohnheim in Germany, there is no dorm as ‘unique’ as Kepler. It’s not only about the cheap rent here (200 E per month) or the crazy housemaster. Also not only about the building and all the facilities (ping pong room, fitness room, study room, etc). For me, it’s more about the people who lived inside Kepler and the culture that grows altogether with it.

The idea behind the Kepler story is the urgency of keeping all the memories I have experienced up until now and will experience in the 2 remaining months I have in Germany. In my opinion, there are 2 ways of materializing the memories we have in life. First is through images, second is through  writing. While some people say image speaks a thousand words, I’m disagree with it. You might see a picture in Facebook and say “Ah yeah, we went to Beerfest that day!” or “Woop, that really was a crazy party!” That might be true, but for me through writing, our memories won’t just be a monument, but I can put emotion inside it. That’s the main reason why I really like writing things, it’s only for sole purpose, so that one day, maybe 1 year, 5 years or 20 years from now, I can open my blog, read this story and say, “I remember now, I was really happy in Kepler.” and smile….

Kepler frontside

I don’t know who and how many people will read these stories of mine, but I just want you guys to know, these stories are made by me for us. I never have any intention to offence anybody. Also I will use myself as the main character in the stories up ahead to make it easier and I will also put real names in these stories, might be even pictures. Anybody who feels like offended in any kind of way by my post, I’m deeply sorry and just tell my straight away and I will delete my post.

Guys, these stories about Kepler will be titled with “Kepler story” in front of it. These are stories about a place, in where people from all over the world come and live together in harmony. These… are stories about Kepler, Studentenwohnheim! Enjoy :)

 

P.S. The next post will be in 4 or 5 days because of some upcoming events, so just wait. And there might be a lot of Grammar mistakes in this post because I have just finished studying Deutsch so  the grammar are all mixed up. -_-”

 

Is it my time to shine?

Not so long time ago, approx. 2 weeks ago, one of my best friend, Enji suddenly sent me a BBM and asked me.

“Pety!! (I’m imagining with her high pitch annoying voice) You said to me that every person has the right to shine right? I think this is it! My time has came.”

Ehh??!! I don’t even remember when and why I said that to her. The continuation from that chat is like usual, we talked about something and how is it going in Indonesia and how is it going in Germany. But that’s not the point. I’m just thinking about it again recently and… Is it true that every person has the right to shine? Or even more important, is the chance will come to every…. EVERY person? Then how about the people that don’t receive that chance? Isn’t it unfair?

Abandoning my thesis, I just sit there in front of my laptop, listening to some music (search : John Mayer) and browsing. There are a lot of people, living in the spotlight of the whole world. For example Steve Jobs, Ellen Degeneres, Warren Buffet, Iron Man etc. and they are all amazing. But how can they become that famous and successful? Were it like a fortune just came out of nowhere and said,” Hey dude! It’s your time to shine! Vamos, to the top of the world!” Or is it like every parents said, those are the result of their continuous hard work and learning of the whole life? My mind was just thinking around with a lot of questions, and no, I wasn’t high :)

I spent my time browsing for some people and read their article in Wikipedia. In my conclusion, yes, they got the chance. But in the other hand, they are prepared for it. Continuous learning and practicing, they were 100% ready for the chance to come, they knew it and they did everything to maximize that chance. Now it’s only 2 months left for me before I go back to Indonesia. I wanted to finish my thesis before the deadline, but in the other hand, I want to spend my time in the most quality way possible because for me, this is the best experience I’ve ever had. I hope I can do both (My parents face already show up in my mind, telling me to do my thesis…)

Time of my life

This Simply Amazing Man (Eng+Ind)

English:

Once upon a time, live this man called… Well, let’s just call him “C”. This mr. C is just what you called as ordinary man. He was raised in a very big family, with 8 brothers and sisters, a traditional Chinese Family. From the rumor spread around, his family wasn’t that wealthy, so since he was young, he was raised in so called super diligent way by his parents, a typical traditional Chinese way of raising kids. Later on, although his life has through a lot, finally he met a girl and married her. And then, voila! God gave them 2 sons. They were and are happy family.

But, I won’t talk about this family in general. I’m talking about this ‘mr. C’. This man, isn’t a man that you would call flamboyant nor ‘public speaker’. He isn’t the kind of person that make people laugh really hard until their stomachs hurt. He isn’t the smartest person or the richest person on earth. But for his sons, he is one of the best person alive. For them, he also never said anything fascinating, never being somebody that you will usually describe as ‘loving’ person. He never said anything like “I love you” at night before his sons go to sleep, nor give them kiss on the cheeks. No… He wasn’t raised that way by his parents, so neither will he does such things.

Although he never shows his emotions nor voices his wills, he always shows it through his actions. Talk less, that’s the way he is. And his sons know about it, deep inside. Once this kid remember when they, as a family, went to one shopping center nearby. Suddenly, because this kid was still 6 years old, he couldn’t hold his bladder and pooped in his pant. This kid was crying and all but mr. C, not like any other man, was the one took care of his son. Not his wife. He took him to toilet, washed him, bought new pant and all. The kid never forget about this thing.

He also never buy anything on his own will. He always said such thing like “that’s one ugly thing” or “I don’t like it”. But his wife and his sons know, he just wants to make sure that his family is his priority. He still drives his old car, a 12 years old car while his kids drive new cars. He won’t buy any clothes if not for his wife buy it for him. He always took care of all his belongings, that’s why all his stuffs are really old. But for his family, he always try to give them the best things. Whenever problems arise, he took care of everything. He is simply this amazing kind of man.

Dear mr. “C”, your family love you. Keep becoming a man that your sons can look up to.

Happy birthday.

Indonesia:

Pada suatu saat, hiduplah seorang pria… Sebut saja namanya “C”. Pria ini mungkin adalah tipikal orang yang biasa dibilang orang ‘standar’. Lahir dari sebuah keluarga keturunan Tiong Hoa yang kuno, dengan 8 orang saudara laki-laki dan perempuan. Keluarganya bukanlah keluarga yang berlimpahkan harta. Karena saudaranya yang banyak, si C dibesarkan oleh orang tuanya sebagai orang yang tidak boleh menuntut terlalu banyak. Kenapa? Karena kalau iya, maka semua saudara-i nya juga akan menuntut hal yang sama, dan itu tidaklah memungkinkan. Oleh karena itu, dia dibesarkan untuk menjadi orang yang rajin, tipikal cara keluarga Tiong Hoa kuno, keras. Walaupun telah melalui banyak hal, akhirnya bertemulah orang ini dengan seorang gadis, dan menikahlah mereka. Oleh Tuhan, diberilah mereka 2 orang anak, laki-laki. Kemudian hiduplah mereka sebagai keluarga yang bahagia.

Namun bukan tentang keluarga ini yang ingin diceritakan di sini. Ini adalah cerita tentang “C”, seorang pria yang berbicara dengan punggungnya. Pria ini bukanlah seorang pria yang modis, pandai bersilat lidah, maupun humoris. Jujur saja, candaannya banyak yang kering, sekering musim kemarau di Pontianak. Dia juga bukanlah orang tercerdas maupun terkaya di dunia. Dia bukanlah siapa-siapa. Namun bagi anak-anaknya, dia adalah salah satu orang terbaik di dunia. Bukanlah dia seorang pria yang mengungkapkan rasa sayangnya. Seumur hidupnya, tidak pernah dia mengucapkan kata “I love you” kepada anak-anaknya sebelum tidur seperti di film-film. Tidak, bukan begitulah caranya dibesarkan ayahnya, jadi bukan begitu jugalah caranya membesarkan anaknya.

“C” bukanlah orang yang ekpresif. Emosinya selalu dipendam dalam-dalam, keinginannya tidak pernah dia ucapkan. Namun, tindakannya mewakili segalanya. Sang anak ingat, dahulu kala, berangkatlah mereka sekeluarga untuk berbelanja. Tiba-tiba, si kecil yang berumur 6 tahun tidak bisa menahan keinginan air besar. Akhirnya kotorlah celananya. Walau sang anak menangis meraung-raung, namun bukan sang ibu yang mengurus anaknya, tetapi sang ayah. Dengan sabar dan penuh kasih sayang, dibawalah anaknya ke toilet, dibasuhlah pantatnya, dibelikanlah celana baru, semuanya tanpa mengeluh. Kejadian ini diingat terus oleh anaknya. Lalu ada kejadian kedua, kali ini, si kecil membuat ulah. “Dek, tolong ambilin minum dong.” ucap sang Ibu. Lalu sang kecil bicara, “Lagi sibuk mah.” PLAK! Ditamparlah muka si kecil. Berlarilah dia ke kamarnya, ditutupi dengan bantal kecilnya, menangislah dia meraung-raung. Tidak berapa lama, sang ayah datang. Diusapnya sang anak pelan-pelan, lalu dia mengucapkan sesuatu. Sesuatu yang berbunyi seperti “…..Maafin mamah ya.” Bukan kata-katanya yang diingat sang anak, namun tindakan sang ayah. Tindakan yang mewakili seribu kata bahasa.

Pria ini tidak pernah membeli segala sesuatu yang dia ingini. Jika ditanya, dia selalu menjawab bahwa barang itu jelek atau dia tidak suka. Namun keluarganya tahu, dia hanya ingin keinginan keluarganya terpenuhi dahulu. Dia masih bepergian dengan mobil Kijang tuanya yang berumur  belasan tahun, walau anaknya menggunakan mobil baru. Baju-bajunya masih sama dengan baju yang dia kenakan 5-6 tahun lalu. Kalau bukan karena istrinya membelikan baju yang baru, mungkin dia masih akan memakai kaos oblong dan celana kolor :) Walau barang-barangnya sudah sangat berumur, namun untuk keluarganya, dia selalu berusaha membelikan barang yang terbaik. Begitulah dia. Baginya, keluarga adalah no.1.

Kepada bapak “C” yang terhormat, terima kasih atas segala pengorbanan yang Anda berikan. Keluargamu sangat beruntung untuk mendapatkanmu.

Selamat ulang tahun.

Should We Stop Dreaming?

It’s been 2 or 3 weeks I think since last time I posted here. This has been one hell of fun and interesting month (and I think this week too with 2 Champions league semifinal matches and NEWIES Party, one of the biggest party in Pforzheim). But this time, I won’t talk about this crazy week. I know it’s something worth writing too but not this time. Recently, especially when my mind wonders around (i.e. when I’m writing my thesis but losing my focus), I’m thinking about myself 5 – 10 years ago.

Around 10 years ago, I was thinking that someday… someday I will live in Europe or U.S. with all the weird ‘bule’ (bule in Indonesia refers to foreigner, especially from Europe and North America) and speaking English  fluently.  For the young me, that was one of my highest dream. It’s just like some kid rambling around about his future. I was simply said it without thinking. I just thought that how could would it be if I can speak English without hindrance and have a lot of foreigner as my friend. And turns out, here I am, somewhere in the south part of Germany, living with soooo heterogeneous people, coming from so many countries, and now I can speak English too. (I remember about how envy I was for seeing my cousins speaking English to each other. Hey, it’s only English! Try Deutsch!)

This is how I live

Oke, that’s one. Now I will go back to 2 years ago. This time, it was when I was attending my welcoming reception in my university, Institut Teknologi Bandung (ITB). We were in this place called SABUGA and there were all of us, around 3500 new students hearing the speech from the Rektor. And then there came the announcement from the MC. Turns out, the best students from each faculty every year will be called in the new students welcoming reception and will receive a honorable certificate from the Rektor which is called “Ganesha Prize”. I’m not trying to be a cocky kind of guy, but my university is one of the best uni in my country. And I thought, how cool is that if I can be that guy? I spoke my mind to one of my friend, Dipo. “Po, I will become that guy in 2 years. Mark my word!” Again, that was just some random words.  Turns out, although I wasn’t attending the ceremony because of some miscommunication, I really received the Ganesha Prize. What a surprise!In Berlin

I know that those weren’t that amazing and super kind of experiences. It’s not like I founded Facebook or accepted in Harvard but I’m still amazed on how God actually fulfill my stupid wishes if I actually tried. I don’t know if I deserve to get that or not but here I am, with all the God’s blessings. Should I feel satisfied and stop dreaming? I don’t know, but if God will help me and my other stupid dreams, why not. Well, I got an idea, why don’t I write it here? Maybe God can read my blog too. So God, please read this letter of mine.

Dear God,

These are my new wishes. There are 2 big.. no.. giant wishes. First, I want to find me some nice girlfriends. Until now, I have found some nice girls, but unlucky me they weren’t or couldn’t be mine. So in 10 years ahead, please give me some stunning romantic love life. Cheers!

Second, I know this sounds really bullshit, but I really find that political life really astonishing. I know I’m Chinese descendant and Catholic so it will be very hard for me to be one, but still God, I really want to be a President. I want to be somebody recorded in history, I want to be famous, and moreover, I want to give meanings to people life. I love Indonesia more than any other country in the world and I want to work hard for this country I love.

Your favorite son,

Petrus

I’m disappointed in you Indonesia..

Reading some news about Indonesia recently really make me fell… How to say it? Sad? Yeah, I”m a little sad. For you Indonesian, you must all know which news I meant. But maybe some International students in Pforzheim decided to read my blog, I will explain again. It’s about  gasoline. Several weeks ago, the government of Indonesia decided to increase the gasoline price in Indonesia from around Rp4.500,00 into Rp6.000,00. (CMIIW) If we convert it to euro, it will be from 40 cent to 50 cent per liter. It’s gonna be just another boring news if…… not accompanied by many stupid people decided to make some riots regarding these. Even more, the motor of these riots are, guess what, STUDENTS! Das ist unglaublichUnbelievable!

Riot

I mean…. I don’t even know how to say it. I won’t judge you guys. I know we are a poor country. I know our live will be harder with the price are all raising. But… just….. oke?! What’s in your mind actually? You are all students! We are! If you want to say something, you want to protest about something, do it intelligently, write about it in media with your argument. Try to express your reason why it will be a bad idea for Indonesia. I’m not agreeing with the government here… It’s just… don’t you think that government have their own reasons why they have to raise the gasoline price? They aren’t stupid people guys, even our president got some really bright IQ. Demo BBM

I think I cried a little bit deep inside when I read this news. We are a great countries, with some really beautiful nature, awesome cultures and amazing people. Where are the Indonesian that love peace, smile every time and caring? I loved Indonesia, and even more now since I came to Germany and I know Indonesia has a really bright future. But you, some stupid people just destroyed everything. I hate you!

Artikel “Di Antara Tiga Inti Kemahasiswaan”

Well, ini post gw kedua tentang kehidupan bermahasiswa yang sebetulnya sempat gw coba kirim ke KOMPAS, akan tetapi ditolak dengan alasan terlalu ‘normatif’. Hmmmm apaan ya artinya? hahahaha. Btw setelah gw baca lagi, ternyata gw nulis ini seenak udel gw aja dan tidak berdasar. Jadi emang ya pantes ni tulisan ditolak. Mungkin gw kirim ke majalah Bobo juga ga diterima kayanya. hahaha. Btw, buat sharing aja waktu gw desperate mencari media massa yang mau memuat tulisan gw, sempat juga gw bikin tulisan begini…

Di Antara Tiga Inti Kemahasiswaan

            Dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa, seringkali kita dituntut oleh orang tua sesuatu yang hampir mustahil untuk dilakukan. Seringkali orang tua menuntut kita bukan hanya berprestasi di bidang akademik, namun juga aktif di kehidupan berorganisasi dan juga aktif bersosialisasi dengan semua orang. Pada kenyataannya, sering kali orang tua tidak memahami betapa hal itu sebenarnya hampir mustahil untuk dilakukan.

Permasalahannya, sebagai seorang mahasiswa, waktu 24 jam dalam sehari sangatlah tidak mencukupi untuk mencapai ketiga hal tersebut, prestasi akademik, keaktifan berorganisasi dan juga bersosialisasi. Ibaratkan sama dengan Impossible Trinity dalam ilmu Ekonomi yang mencantumkan bahwa dalam praktek menerapkan fixed exchange rate, negara tidak bisa mencapai tiga tujuan pokok sekaligus dan harus ada satu yang dikorbankan (Mundell-Fleming, 1960), Impossible Trinity juga berlaku dalam kehidupan bermahasiswa, sangat jarang mahasiswa yang berhasil mencapai ketiga hal tersebut.

Prestasi Akademik

Hal yang paling sering dituntut oleh orang tua adalah agar anak-anaknya mencapai prestasi akademik yang setinggi-tingginya. Tidak jarang anak-anak dituntut untuk mencapai cum laude, atau bahkan summa cum laude. Yang tidak diketahui oleh orang tua adalah betapa banyak waktu yang harus diluangkan oleh seorang mahasiswa untuk belajar agar dapat mencapai prestasi tersebut. Memang, tidak pelak lagi tugas dari gelar siswa dari kata mahasiswa yang kita sandang adalah belajar. Maka dari itu, secara subjektif, tugas dari seorang mahasiswa yang paling pokok adalah mencapai prestasi akademik setinggi-tingginya.

Akan tetapi, bukan berarti hal itu melegalkan seorang mahasiswa yang belajar terus menerus dan meninggalkan kehidupan bersosialisasi dan keorganisasian. Belajar saja tidaklah menjamin masa depan dari seseorang karena banyak aspek lain yang dibutuhkan untuk mencapai sukses. Karena itulah timbul berbagai teori di samping IQ seperti EQ, SQ, maupun lain-lainnya. Oleh karena itu, walau belajar sudah menyita 70% waktu kita, 30% sisa waktu yang ada seharusnya dimanfaatkan untuk dua hal lainnya.

Berorganisasi atau Bersosialisasi

            Seringkali orang-orang menganggap bahwa berorganisasi sama saja dengan bersosialisasi. Walaupun tidak bisa dibilang salah, secara pribadi, berorganisasi tidaklah sama dengan bersosialisasi. Cara pandang dalam suatu masalah dari orang yang terlalu terjun ke sebuah organisasi secara tidak langsung akan sesuai dengan cara pandang organisasi dalam masalah tersebut. Perbedaannya dari orang yang bersosialisasi dengan berbagai jenis orang, mereka akan mendapat perspektif dari masalah tersebut dari berbagai sudut pandang. Jadi baik berorganisasi maupun bersosialisasi masing-masing ada sisi positifnya masing-masing.

Dalam kehidupan berorganisasi, sering kali mahasiswa dituntut untuk terjun secara langsung dan total dalam kehidupan berorganisasi. Bisa saja mahasiswa hanya sesekali berkumpul dengan organisasinya, akan tetapi tentu saja posisi yang dicapai tidak dapat mencapai posisi yang ‘strategis’. Untuk mencapai posisi tertinggi, contohnya Ketua Himpunan, seorang mahasiswa dituntut untuk secara total mencurahkan perhatiannya dalam kepentingan-kepentingan himpunan. Tentu saja diharapkan pengalaman ini dapat bermanfaat dalam kehidupan berorganisasi yang akan dialami di pekerjaan yang akan datang. Akan tetapi, sering kali karena terlalu mendalami organisasi tersebut, seseorang akan menjadi terlalu memprioritaskan kepentingan organisasi dan melihat segala sesuatu dari ‘kacamata’ sang organisasi. Hal itu tidaklah terlalu menyenangkan bagi orang-orang dengan kepentingan yang lain.

Sedangkan dalam bersosialisasi, keuntungan yang bisa didapatkan adalah kita bisa memiliki networking yang kelak diharapkan bisa bermanfaat di masa yang akan datang. Dan juga cara pandang kita dalam memahami suatu problema tidak akan terlalu terkotak-kotak. Sebuah problem tidak selalu harus diselesaikan dengan cara A, akan tetapi ada juga cara penyelesaian B atau C. Tentu saja bersosialisasi sangatlah menyenangkan dan jika memungkinkan, 100% waktu kita dengan sangat senang hati ingin kita curahkan untuk bersosialisasi. Akan tetapi komitmen dan tanggung jawab hanya dapat dilatih jika kita mau mencurahkan waktu kita dalam kehidupan berorganisasi atau berjuang mencapai prestasi tertentu.

Mahasiswa Tidak Ada Yang Sempurna

Sebagai seorang mahasiswa, tidaklah mungkin kita menjadi sosok yang patut disebut sebagai mahasiswa yang sempurna. Bisa saja kita membagi secara rata waktu kita untuk ketiga hal tersebut, akan tetapi untuk menjadi yang terbaik di ketiga hal tersebut hampir tidak mungkin, kecuali mahasiswa tersebut adalah seorang jenius yang bisa mencapai prestasi akademik tertinggi dengan hanya sedikit belajar, tentu saja sisa waktunya bisa digunakan untuk berorganisasi atau bersosialisasi.

Membaca beberapa waktu yang lalu bagaimana seorang mahasiswa melakukan tindakan bunuh diri karena stress, secara pribadi saya merasa prihatin. Bunuh diri bukanlah tindakan yang bijak karena walau segala sesuatu terasa begitu kacau sekarang, kita tidak akan tahu bagaimana keadaan mungkin akan berbalik seratus delapan puluh derajat beberapa saat yang akan datang.

Mahasiswa diharapkan secara masak-masak untuk memikirkan apa yang menurut mereka paling baik untuk masa depan mereka. Jangan takut untuk melakukan kesalahan karena lebih baik melakukan kesalahan sekarang dan belajar daripada terlambat di masa yang akan datang. Untuk para orang tua, janganlah menuntut terlalu banyak dari anak-anaknya. Menjadi seorang mahasiswa yang sempurna hampir mustahil untuk dilakukan, akan tetapi kami, para mahasiswa, sedang berjuang untuk mencoba mencapai hal tersebut. Yang kami butuhkan adalah dukungan dari orang tua.

 

The END

Memories

Oke, I know I’m supposed to write my thesis right now. But whatever, there is a reason why suddenly my urge to write something in my wordpress show up again. This is because of Citra, my devilish, spoiled, but surprisingly good at making videos and cooking posted a video about our last winter semester here in Pforzheim. And suddenly it made me thinking how weird actually our memory works.

Let’s take an example of me. Okay, I know I’m not the smooth talker kind of guy. I’m more of the nerdy awkward type of guy if I meet somebody new. But, as time goes by, gradually even I will be able to understand other people, and also other people will know me better. That way, something we call friendship can arise. And mark my word, some time in the future, we will laugh on how awkward we were back then, but how a good friend we are now. That’s what we call as a memory.

Memory is something that you cherish. Something you will remember in the future. And when the time comes, it’s a memory that forge your bond with other people. That’s why, in my case, I never care if everybody look at me as a surprisingly quiet and boring kind of guy. I hate to pretend that I’m enjoying a time I spend with somebody if actually I don’t and camouflage it with a lot of talking. That’s the way it works for me…. But guys, when the time comes, I promise, we will forge the best memory to cherish together in the future. This time is Summer :)

note : I think I will join Citra to make a goodbye video Summer edition for the next 6 months.

Timbalah Ilmu Sampai Ke

Beberapa post ke depan gw bakalan nge post artikel-artikel yang coba gw kirim sebagai persyaratan beasiswa Kemendiknas. Karena salah satu artikel gw akhirnya udah dimuat, jadi artikel yang lain sudah ga perlu gw pakai lagi. Enjoy!

Timbalah Ilmu Sampai Ke

Dalam Laskar Pelangi, Andrea Hirata pernah menuliskan, “Timbalah ilmu sampai ke Universitas Sorbonne.” Membaca kalimat tersebut di salah satu novel favorit saya sempat menjadi inspirasi tersendiri untuk mencari tahu, apa sebenarnya yang dimaksud sang penulis. Dalam kalimat tersebut, mungkin yang dimaksud oleh sang penulis bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa kita harus berbondong-bondong mencari pendidikan di luar negeri karena mutu pendidikan di luar lebih bagus. Bukannya salah, akan tetapi banyak universitas dalam negeri yang tidak kalah bagusnya dengan universitas-universitas kelas dunia lainnya. Jadi sebenarnya, apa yang dimaksud oleh Andrea Hirata?

Pada awalnya, saya sempat berpikir, mungkin sampai akhir saya tidak akan pernah tahu tentang misteri kalimat tersebut. Bukannya patah arang, beberapa saat yang lalu, saya masih merasa puas dengan keadaan saya sekarang dan universitas di mana saya terdaftar sebagai mahasiswa. Sampai akhirnya datanglah kesempatan belajar yang tidak diduga-duga sebelumnya. Mungkin rejeki dari yang di atas, tiba-tiba datanglah tawaran untuk mengikuti pertukaran pelajar di Hochschule Pforzheim, sebuah universitas di Jerman dari universitas saya. Akhirnya setelah membulatkan tekad, meminta ijin dari orang tua dan berkali-kali merasa bimbang, berangkatlah saya ke Pforzheim ini. Tanpa pengetahuan apa-apa tentang Jerman dan bahasanya, bermodalkan nekat jadilah saya mengadu nasib di negeri orang selama satu tahun. Semuanya demi mengetahui misteri dari kalimat tersebut.

Datang dari satu negara yang memiliki kultur Asia yang kental ke negara yang benar-benar berbeda, berkultur barat yang kental, bebas dan bertolak belakang dengan Asia memberi kejutan tersendiri. Pada awalnya, tentu saja segala macam penyakit manusia yang jauh dari kampung halaman bermunculan. Dari rindu keluarga, kejutan budaya, perbedaan tipe makanan, sampai menangis minta pulang kepada orang tua sempat terjadi. Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur. Yang sudah terjadi ya terjadilah. Setelah sekitar satu semester di sini, barulah saya bisa beradaptasi dan menikmati apa yang sebenarnya, bisa dibilang unik, namun menarik dan jika bisa menikmati, bisa jadi bahkan kita tidak mau pulang ke negeri asal. Sebagai pendapat pribadi, ada beberapa hal yang menurut saya menarik dan mungkin bisa menjadi bacaan yang menarik bagi yang lainnya.

Pesta Dimulai Pada Hari Rabu

Kalimat yang disukai oleh orang-orang Jerman maupun orang-orang dari negara barat lainnya, dalam bahasa Inggris adalah, “The party starts on Wednesday!” Sampai saat ini saya sendiri masih bingung, kenapa rabu? Namun kenyataannya begitulah yang terjadi. Pada hari rabu, berbondong-bondong anak muda, khususnya kalangan mahasiswa pergi ke club atau bar. Untuk melepas stress, anak-anak muda akan minum-minum, bermain biliard, menonton bola, ataupun hanya sekedar datang untuk mengobrol dengan teman-teman sebaya. Khususnya bagi mahasiswa Indonesia yang beriman kuat dan tidak tergoda mencicipi minuman keras, datang dan bersosialisasi pun tidak masalah.

Salam

Sebagai pengganti salam, budaya barat menggunakan sistem cium pipi kanan dan cium pipi kiri untuk mengucapkan halo maupun sampai jumpa. Tergantung dari negara asal, ada yang hanya sebelah pipi, ada yang kedua sisi, ada yang tiga kali. Berbeda dengan di Indonesia yang sering menyatakan bahwa bukan muhrim dilarang melakukan kontak fisik, di sini tidak melakukan cipika cipiki menandakan bahwa orang tersebut tidak ramah atau orang tersebut mau menjaga jarak. Bagi kaum pria yang datang ke sini, walaupun pada awalnya sedikit canggung karena tidak terbiasa dan bingung ketika seorang wanita tiba-tiba menyorongkan pipinya, pengalaman tersebut tentu lama-lama menjadi pengalaman yang menyenangkan. Bagi wanita Indonesia baru pengalaman tersebut menjadi sedikit menakutkan. Walaupun menurut teman-teman saya mereka senang karena pria di sini seperti bintang film Hollywood, tapi mereka takut jika ketahuan pasangannya di Indonesia sehingga segala foto berhubungan dengan salam dan kontak fisik mereka larang untuk diabadikan.

Dilarang Menggunakan Telepon Selular

Pertama kali saya pergi bersama seorang warga Jerman, komentar pertama yang dia keluarkan adalah, “Kenapa semua orang Indonesia, datang ke restoran, duduk dan langsung bermain dengan Blackberrynya?” Teman saya tersebut sempat tinggal di Indonesia dan menurutnya semua orang Indonesia seperti itu. Hal itu memberi kejutan tersendiri dan menyadarkan saya tentang fakta tersebut. Bagi orang-orang dari negara barat, bermain telepon selular apabila sedang bersama orang lain sangatlah tidak sopan, menandakan bahwa orang lainnya membosankan dan hal itu sangat menyinggung. Apabila keadaan sangat penting atau ada telepon masuk, baru seseorang boleh meminta ijin untuk menggunakan telepon selularnya. Keadaan tersebut benar-benar bertolak belakang dengan di Indonesia di mana dalam pengalaman pribadi, sering bisa kita lihat orang yang duduk dalam satu meja tidak saling berbicara namun hanya bermain-main dengan telepon selularnya.

Setiap Orang Untuk Diri Sendiri

Pada kenyataannya di Jerman, setiap orang dianggap bertanggung jawab untuk masa depannya masing-masing. Sebagai contoh, karena di Jerman sistem penilaian hanya diambil dari ujian akhir yang dilakukan di akhir semester, seorang mahasiswa diperbolehkan bolos semua kuliah asalkan dia datang di waktu ujian dan lulus. Dari sisi positifnya, hal itu mengajarkan seseorang untuk bertanggung jawab bagi dirinya sendiri. Jika mau sukses, maka orang tersebut harus berusaha sebisa mungkin untuk mencapainya. Yang mengejutkan, walau kita tahu seberapa suka orang Jerman terhadap pesta dan mabuk-mabukan, akan tetapi satu atau dua bulan, pesta-pesta akan berkurang 80% dan perpustakaan-perpustakaan akan penuh. Dari makhluk malam, para mahasiswa akan berubah secara drastis menjadi kutu buku menjelang ujian. Barulah begitu ujian selesai, pesta berjalan kembali.

Secara pribadi, banyak hal-hal menarik yang benar-benar membuka mata dan pikiran yang menurut saya bisa kita dapatkan dengan belajar di luar negeri. Jika dipikir kembali, mungkin yang dimaksud oleh Andrea Hirata bukanlah pendidikan secara materi atau mutu pendidikan. Akan tetapi ini lebih kepada bagaimana kita melihat bahwa dunia itu luas dan merasakan betapa perbedaan budaya antara satu dengan yang lain sangatlah menarik untuk dicermati. Karena jika itu semata-mata oleh karena mutu pendidikan, kenapa tidak sekalian Cambridge, atau mungkin Harvard yang dia sebutkan? Oleh karena itu, bagi teman-teman di Indonesia, menurut saya, gapailah pendidikan sampai ke Hochschule Pforzheim.

Menulis Tugas Akhir? Totally sucks!

Di sela-sela mencari topik buat tugas akhir gw, gw pengin cerita dikit kenapa menulis tugas akhir totally sucks! Ada beberapa alasam:

1. Apa sih dasar alasan dari kewajiban mahasiswa menulis Tugas Akhir yang pada akhirnya menentukan kelulusan kita? Memang proses pembelajaran selama 3 – 4 tahun di universitas kurang apa? Misal 1 orang mahasiswa super pintar dalam berorasi, pintar dalam kegiatan praktek dan excellent dalam ujian tertulis. Tapi dia daya konsentrasinya dalam menulis kurang. Lalu kalau dia ga mampu nulis skripsi jadi ga bisa lulus? Gitu? Totally unfair!

2. Apa sih fungsi dari TA? 4-6 bulan konsentrasi nulis TA demi wisuda.. Lalu abis wisuda TA kita buat apaan? Dipake gitu dalam kehidupan nyata? Steve Jobs sama Bill Gates ga bikin TA tetep sukses tuh.

3. 4-6 bulan waktu yang diperlukan buat menulis TA bakalan lebih bermanfaat kalau dipakai menghabiskan waktu bersama temen-2, apalagi setelah lulus kita bakalan masing-masing sibuk kerja… Masa masa muda terakhir kita dipakai berkutat dengan buku?? SUCKS!

4. Denger2 Indonesia bikin rencana kalau lulus TA kita harus di publish dulu? Another sucks idea from sucks government. Gunanya apa???  Give me 5 logical reasons and I’ll do this happily.

*just rambling about my bad condition. Leave it alone…